Senin, 11 Juni 2012

DARSANA - Filsafat Hindu

Darúana

Kata Darúana berasal dari urat kata “dåú” yang artinya ‘melihat’, menjadi kata darúana (kata benda) artinya ‘penglihatan atau pandangan’. Kata darúana dalam hubungan ini berarti ‘pandangan tentang kebenaran’ (filsafat).

Nama atau istilah lainnya adalah :
  • Tattva. Kata ini berasal dari kata “tat” yang artinya ‘itu’ yang dimaksud adalah ‘hakekat atau kebenaran’.
  • Mànanaúàstra. Kata ini berarti ‘pemikiran, perencanaan, pertimbangan atau renungan’ yang dimaksud adalah pemikiran atau renungan filsafat.
  • Vicàraúàstra. Kata ini berarti ‘pertimbangan, renungan, penyelidikan, dan keragu-raguan’ yang dimaksud adalah menyelidiki tentang ‘kebenaran filsafat’.
  • Tàrka artinya spekulasi. Tàrkika berarti orang yang ahli filsafat.
  • Úraddhà, kata ini berarti keyakinan atau keimanan.
Darúana atau filsafat India dibedakan atas dua kelompok, yaitu:
  1. Pandangan yang orthodox, disebut juga astika. Kelompok ini mengakui otoritas dan kemutlakan kitab suci Veda sebagai úabda Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan sumber ajarannya.
    Kelompok ini terdiri dari:
    1. Sàýkhya, 
    2. Yoga, 
    3. Mìmàýsa, 
    4. Vaiúeûika, 
    5. Nyàya, dan 
    6. Vedànta.
    Keenamnya sering disebut saddarúana atau darúana saja dan bila kita membicarakan filsafat Hindu, maka yang dimaksud adalah saddarúana ini.
  2. Pandangan yang heterodox, disebut juga nàstika. Filsafat ini tidak mengakui kebenaran dan kewenangan Veda, terdiri dari 3 aliran filsafat, yaitu:
    1. Càrvàka, 
    2. Buddha, dan 
    3. Jaina.
Ajaran atau benih-benih filsafat India sebenarnya sudah dimulai sejak zaman Veda (6000 - !000 sebelum Masehi) pada saat kitab-kitab Mantra Saýhità disusun. Perkembangan lebih jelas terlihat ketika kitab-kitab Upaniûad disusun sekitar tahun 800 - 300 sebelum Masehi, tidak jauh dengan masa tersebut disusun pula kitab-kitab vìracarita (Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata juga puràóa). 

Perkembangan yang sangat menonjol nampak pada masa disusunnya kitab-kitab Sùtra, sekitar tahun 500 S. M. sampai 500 Masehi, seperti Brahmasùtra yang disebut juga Vedàntasùtra oleh Bàdaràyaóa (yang diyakini juga sebagai Mahàrûi Vyàsa), Yogasùtra oleh Patañjali, Sàýkhyasùtra oleh Kàpila dan sebagainya. Perkembangannya kemudian adalah pada zaman Scholastik sekitar tahun 200 Masehi. Zaman ini disebut zaman kemajuan dengan munculnya tokoh-tokoh besar seperti Úaòkaràcàrya (tokoh Advaita Vedànta), Pàmanuja (tokoh Visiûþhàdvaita), Madhva (tokoh Dvaita) dan yang lainnya. 

Bagaimanakah hubungan antara Veda dengan Darúana? Veda adalah úabda Brahman, wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi sumber ajaran agama Hindu sedang darúana adalah pandangan Mahàrûi atau para ahli tentang kebenaran ajaran Veda dan alam semesta. Darúana (Astika) menjadikan Veda sebagai sumber kajian. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk memudahkan pemahaman terhadap ajaran yang terkandung dalam kitab suci. Dengan mempelajari Darúana akan lebih mudah mempelajari kitab suci. Darúana memberikan pencerahan (kejernihan) bagi umat dalam memahami serta mengamalkan ajaran agamanya. 

Berikut kami sampaikan pokok-pokok ajaran Ûað Darúana yang memberikan rona yang mewarnai dan memberikan pencerahan terhadap ajaran Agama Hindu:

1) Sàýkhya
Menurut tradisi, pembangun ajaran ini bernama Mahàrûi Kàpila, yang menulis Sàýkhyasùtra. Di dalam Bhagavatapuràóa disebutkan nama Mahàrûi Kàpila, putra Devahùtì sebagai pembangun ajaran Sàýkhya yang sifatnya theistic. Karya tulis tentang Sàýkhya yang kini dapat diwarisi adalah Sàýkhya-kàrikà yang ditulis oleh Ìúvarakåûóa. 

Ajaran Sàýkhya dan Yoga besar pengaruhnya terhadap ajaran agama Hindu di Indonesia. Kitab-kitab tattwa seperti : Wåhaspatitattwa, Tattwajñàna, Gaóapatitattwa berbahasa Jawa Kuno dalam Úaivapakûa banyak mendapat pengaruh dan bahkan merupakan ajaran Sàýkhya dan Yoga. Ajaran Sàýkhya sebenarnya sudah tua usianya, hal, ini dibuktikan bahwa dalam kitab-kitab Úruti (Mantra, Bràhmaóa, Àraóyaka, Upaniûad, Småti, Itihàsa dan Puràóa) di dalamnya terkandung ajaran Sàýkhya. 

Kata Sàýkhya berarti pemantulan yaitu pemantulan filsafati. Adapula yang menyatakan bahwa Sàýkhya berarti kumpulan bilangan (Saý = berkumpul, khya = bilangan). Ajaran Sàýkhya ini disebut bersifat realistis karena mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. Sàýkhya disebut “dualistis” karena prinsip ajarannya ada dua realitas yang berdiri sendiri - sendiri, saling bertentangan, tetapi dapat dipadukan, yaitu: puruûa dan prakåti. 

Akhirnya Sàýkhya disebut “pluralistis”, karena mengajarkan bahwa Puruûa itu banyak sekali. Tentang kebenaran Tuhan Yang Maha Esa tidak perlu dibuktikan lagi, karena itu pula ajarannya disebut “Nir-ìúwara Sàýkhya”.

2) Yoga
Ajaran yoga sangat populer di kalangan umat Hindu. Adapun pembangun ajaran ini adalah Mahàrûi Patañjali. Ajaran ini merupakan anugrah yang luar biasa dari Mahàrûi Patañjali kepada siapa saja yang ingin melaksanakan hidup kerohanian. Bila kitab Veda merupakan pengetahuan suci yang sifatnya teoretis, maka Yoga merupakan ilmu yang sifatnya praktis dari ajaran Veda. Ajaran ini merupakan bantuan kepada mereka yang ingin meningkatkan diri di bidang kerohanian.

Tulisan pertama tentang ajaran Yoga ini adalah kitab Yogasùtra karya Mahàrûi Patañjali walaupun unsur-unsur ajarannya sudah ada jauh sebelum itu. Ajaran Yoga sebenarnya sudah terdapat di dalam kitab úruti maupun småti, demikian pula dalam itihàsa dan puràóa. Setelah buku yogasùtra munculah kitab-kitab Bhàûya yang merupakan buku komentar terhadap karya Patañjali di atas, di antaranya Bhàûya Nìti oleh Bhojaraja dan lain-lainnya. Komentar-komentar ini menguraikan ajaran Yoga karya Patañjali yang berbentuk sùtra atau kalimat pendek dan padat. 

Kata yoga sendiri berasal dari urat kata “Yuj” yang artinya “berhubungan” (ingat kata yoke atau uga dan yang lainnya). Kata yoga berarti hubungan atau berhubungan, yang dimaksud adalah bertemunya roh individu ( àtma atau puruûa) dengan roh universal yang tidak berperibadi (Mahàpuruûa atau Paramàtman). Mahàrûi Patañjali mengartikan yoga sebagai “Cittavåttinirodha” yaitu penghentian geraknya pikiran. 

Seluruh kitab Yogasùtra karya Patañjali terbagi atas 4 pada (bagian) yang terdiri dari 194 Sùtra. Bagian pertama disebut “Samàdhipàda, isinya tentang ajaran Yoga yakni sifat, tujuan, dan bentuk ajaran Yoga. Ini diterangkan pula perubahan - perubahan pikiran dan cara pelaksanaan Yoga. Bagian kedua disebut “Sàdhanapàda”, isinya tentang pelaksanaan Yoga seperti cara mencapai Samàdhi, tentang kedukaan, karmaphala dan sebagainya. Bagian ketiga disebut “Vibhùtipàda”, isinya segi batiniah ajaran Yoga dan tentang kekuatan gaib yang diperoleh dalam melaksanakan Yoga. Bagian keempat disebut “Kaivalyapàda”, melukiskan tentang alam kelepasan dan kenyataan roh yang mengatasi alam duniawi. 

Seringkali filsafat Yoga disebut bersama-sama dengan filsafat Sàýkhya (Sàýkhyayoga) karena memang filsafat yoga berhubungan erat dengan Sàýkhya. Yang terpenting ialah pelaksanaan ajaran Yoga sebagai jalan memperoleh vivekajñàna, yaitu pengetahuan untuk membedakan antara yang salah dan yang benar sebagai kondisi untuk mencapai kelepasan. Hampir semua filsafat Hindu mengenal ajaran Yoga ini.

Ajaran merupakan praktik dari ajaran Sàýkhya dalam kehidupan nyata. Yoga menerima ajaran tripramàóa dan Sàýkhya, juga menerima 25 Tattwa Sàýkhya dengan menempatkan ìúwara (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai sumber Puruûa dan Prakåti itu, walaupun hakekat Puruûa sama dengan ìúvara. Karena menempatkan ìúvara sebagai sumber kedua prinsip di atas, maka filsafat Yoga disebut bersifat theistic. Filsafat Yoga disebut juga disebut Saìúvara Sàýkhya atau Seúvara Sàýkhya. 

Ajaran filsafat Sàýkhya, Yoga dan Vedànta sangat mempengaruhi kehidupan Agama Hindu termasuk sangat besar pengaruhnya di Indonesia, khususnya Bali.

3) Mìmàýsa
Filsafat Mìmàýsa yang akan dibahas adalah Pùrwa Mìmàýsa, yang umum disebut Mìmàýsa saja. Kata Mìmàýsa, berarti penyelidikan yang sistematis yang pertama terhadap Veda. Pùrwa Mìmàýsa secara khusus mengkaji bagian Veda yakni kitab-kitab Bràhmaóa dan Kalpasùtra sedang bagian yang lain (Àraóyaka dan Upaniûad) dibahas oleh Uttarà Mìmàýsa yang dikenal pula dengan nama yang populer, yaitu Vedànta. Pùrwa Mìmàýsa sering disebut Karma Mìmàýsa sedang Uttarà Mìmàýsa disebut juga Jñàna Mìmàýsa. 

Pendiri ajaran ini adalah Mahàrûi Jaiminì. Sumber utama adalah keyakinan akan kebenaran dan kemutlakan upacara dalam kitab Veda (Bràhmaóa dan Kalpasùtra). Sumber ajarannya tertulis dalam Jaiminìya-sùtra, karya Mahàrûi Jaiminì. Kitab ini terdiri dari 12 Adhyàya (bab) terbagi ke dalam 60 “pàda” atau bagian. Isinya adalah aturan atau tata cara upacara dalam (menurut Veda). 

Komentar tertua terhadap kitab Jaiminì-sùtra dikemukakan oleh Sabara Svàmìn, selanjutnya oleh dua orang tokoh yang berbeda pandangan, yakni Kumàrila Bhaþþa dan Prabhàkara, yang mengembangkannya kemudian. Ajaran (Pùrwa ) Mìmàýsa disebut bersifat pluralistis dan realistis. Pluralistis karena mengakui banyak jiwa, dan penggandaan asas badani yang membenihi alam semesta, sedang realistis karena mengakui bahwa obyek-obyek pengamatan adalah nyata. Bagi Mimàýsa alat pengetahuan yang terpenting adalah kesaksian (kebenaran) Veda. Mimàýsa mengajarkan bahwa tujuan terakhir umat manusia adalah Mokûa, jalan untuk mencapai adalah dengan melaksanakan upacara keagamaan seperti tersebut dalam Veda.

4) Nyàya
Pendiri ajaran ini adalah Mahàrûi Gautama (Gotama), yang menulis Nyàya-sùtra, terdiri atas 5 adhyàya (bab) dan dibagi ke dalam 5 “pàda” atau bagian. Pada tahun ± 400 Masehi, kitab Nyàya-sùtra ini di komentari oleh Vàtsyàyana. Lama kemudian muncul kitab Nyàya bernama Tàrka Saýgraha oleh Annam Bhaþþa dan kitab Siddhànta Muktavadi oleh Viúvanàtha Pañcànana. 

Sistem Nyàya membicarakan bagian umum filsafat dan metoda untuk mengadakan penelitian yang kritis. Tiap ilmu sebenarnya suatu nyàya. Kata nyàya artinya : ‘suatu penelitian yang analitis dan kritis’. Sistem ini barangkali timbul karena adanya pembicaraan dan perdebatan di antara para ahli pikir dan mereka berusaha mencari arti yang benar dari mantra-mantra Veda. Demikianlah, timbul patokan-patokan bagaimana mengadakan penelitian yang benar. Sistem filsafat Nyàya sering juga disebut Tàrkavàda atau ilmu berdebat. 

Ajaran filsafat Nyàya disebut bersifat realistik karena mengakui benda-benda sebagai suatu kenyataan. Ajaran yang realistik ini mendasarkannya pada ilmu logika, sistematis, kronologis dan analitis.

5) Vaiúeûika
Sistem filsafat ini dipelopori oleh Mahàrûi Kaóàda, ia bernama juga Ulùka. Filsafat ini barangkali sedikit lebih tua dari Nyàya. Sistem ini timbul pada abad ke 4 sebelum Masehi. Adapun sebagai sumber ajarannya adalah Vaiúeûika-sùtra yang ditulis oleh Mahàrûi tersebut di atas.

Sekalipun sebagai sistem filsafat mula-mula berdiri sendiri, tetapi kemudian sistem ini menjadi satu dengan Nyàya. Pada abad ke-11 Masehi kedua sistem ini berfusi sehingga menjadi sempurna dan kedua sistem ini oleh banyak penulis sering disebut Nyàya-Vaiúeûika. Tujuan pokok Vaiúeûika bersifat metaphisis. Isi pokok ajarannya menjelaskan tentang dharma yaitu apa yang memberikan kesejahteraan di dalam dunia ini dan yang memberikan kelepasan yang menentukan.

6) Vedànta
Sistem filsafat Vedànta juga disebut Uttarà Mìmàýsa yaitu penyelidikan yang kedua karena sistem ini mengkaji bagian Veda yang kedua yaitu Upaniûad. Kata Vedànta berarti ‘akhir dari Veda’ (Vedasya + Antah). Sumber ajarannya adalah kitab-kitab Upaniûad, tetapi mengingat kitab-kitab Upaniûad ini tidak sistematis, maka Bàdaràyaóa yang disebut juga Mahàrûi Vyàsa menyusun kitab yang bernama Vedàntasùtra. 

Kitab ini dalam Bhagavadgìtà disebut Brahmasùtra. Kitab Vedàntasùtra ini terdiri dari 4 adhyàya (bab) dan masing-masing adhyàya terdiri dari beberapa pàda (bagian). Tiap-tiap adhyàya dari Vedàntasùtra ini membahas: Brahman adalah realitas tertinggi (Bab 1), mengkaji ajaran yang tidak sesuai dengan Vedànta (Bab 2), mengkaji ajaran mokûa (Bab 3) dan membahas pengetahuan tentang Brahman (Bab 4).

Sebagai telah disebutkan di atas, kitab-kitab Vedànta menjadikan kitab-kitab Upaniûad sebagai sumber ajarannya, di samping itu juga kitab Brahmasùtra dan Bhagavadgìtà. Bila mengkaji Bhagavadgìtà, maka jelaslah terdapat 3 ajaran Darúana yang sangat dominan di dalamnya, yaitu: Sàýkhya, Yoga, dan Vedànta. Ketiga darúana ini berpengaruh di Indonesia, seperti nampak dalam berbagai kitab Tattwa, Kakawin (seperti Arjuna Wiwàha, Dharma-úùnya), dan sebagainya. 

Karena Vedànta bersumber pada kitab-kitab Upaniûad, Brahmasùtra dan Bhagavadgìtà, maka sifat ajarannya adalah absolutisme dan theistisme yakni aliran yang absolutisme meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah mutlak dan tidak berperibadi (Impersonal God), sedang yang theisme mengajarkan Tuhan yang berperibadi (Personal God). 

Demikian antara lain kitab-kitab yang dikelompokkan sebagai kitab Veda (Úruti) dan kitab-kitab susastra Hindu yang di dalamnya termasuk kitab-kitab Itihàsa, dharmaúàstra, àgama, tantra, dan darúana.

Sumber: bahan ajar IHDN
Untuk bagian lengkapnya nanti akan diposting per topik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar